Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Ajaran Nabi

Melaksanakan tata cara wudhu yang benar sesuai syariah merupakan syarat syahnya ibadah sholat. Bagi umat Muslim berwudhu bukanlah hal yang asing karena sejak kecil kita telah diajarkan baik oleh orang tua maupun guru ngaji. Namun apakah wudhu yang kita laksanakan sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan dan diajarkan junjukan kita Nabi kita Muhammad SAW?

Seperti sabda Rasulullah SAW yang berkata:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak diterima sholat orang yg berhadats sampai ia berwudhu”.

Demikian juga pada pula Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita pada KitabNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu & tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu & (basuh) kakimu hingga dengan kedua mata kaki”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Maka marilah duduk beserta kami barang sejenak buat memeriksa shifat/rapikan cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Apa  Itu Berwudhu?

Secara bahasa wudhu berarti husnu/estetika & nadhofah atau kebersihan, wudhu buat sholat dikatakan sebagai wudhu lantaran dia membersihkan anggota wudhu dan memperindahnya.

tata cara wudhu

Sedangkan pengertian menurut kata pada syari’at, wudhu merupakan peribadatan pada Allah ‘azza wa jalla dengan mencuci empat anggota wudhu menggunakan tata cara eksklusif. Jika pengertian ini telah dipahami maka kita akan mulai pembahasan mengenai kondisi, hal-hal wajib dan sunnah pada wudhu secara ringkas.

Inilah Tata Cara Berwudhu

Adapun tata cara wudhu secara ringkas menurut hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menurut Humroon budak sahabat Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu,

Dari Humroon -bekas budak Utsman bin Affan–, suatu ketika ‘Utsman memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadahpent.), lalu ia tuangkan air berdasarkan wadah tadi ke kedua tangannya. Maka beliau membasuh kedua tangannya sebanyak 3 kali, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu kemudian berkumur-kumur, lalu beristinsyaq dan beristintsar. Lalu dia membasuh wajahnya sebesar tiga kali, (kemudian) membasuh kedua tangannya sampai siku sebanyak tiga kali kemudian menyapu kepalanya (sekali sajapent.) lalu membasuh ke 2 kakinya sebanyak tiga kali, lalu beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu menggunakan wudhu yang semisal ini dan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam menyampaikan, “Barangsiapa yang berwudhu menggunakan wudhu semisal ini lalu sholat dua roka’at (dengan khusyuked.) & ia tidak berbicara pada antara wudhu & sholatnya maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang sudah kemudian”.

Dari hadits yang mulia ini dan beberapa hadits yg lain bisa kita simpulkan tata cara wudhu menurut Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam secara ringkas menjadi berikut,

  1. Berniat wudhu (dalam hati) buat menghilangkan hadats.
  2. Mengucapkan basmalah (bacaan bismillah).
  3. Membasuh 2 telapak tangan sebanyak 3 kali.
  4. Mengambil air menggunakan tangan kanan lalu memasukkannya ke dalam lisan dan hidung buat berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air pada hidung). Kemudian beristintsar (mengeluarkan air menurut hidung) dengan tangan kiri sebesar tiga kali.
  5. Membasuh semua wajah & menyela-nyelai jenggot sebanyak tiga kali.
  6. Membasuh tangan kanan hingga siku bersamaan dengan menyela-nyelai jemari sebesar tiga kali lalu dilanjutkan menggunakan yang kiri.
  7. Menyapu semua kepala menggunakan cara mengusap menurut depan ditarik ke belakang, lalu ditarik lagi ke depan, dilakukan sebanyak 1 kali, dilanjutkan menyapu bagian luar & dalam pendengaran sebanyak 1 kali.
  8. Membasuh kaki kanan sampai mata kaki bersamaan menggunakan menyela-nyelai jemari sebanyak tiga kali kemudian dilanjutkan dengan kaki kiri.

Syarat-Syarat Berwudhu

Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah mengungkapkan kondisi wudhu ada tujuh, yaitu

  • Islam,
  • Berakal,
  • Tamyiz,
  • Berniat, (letak niat ini waktu hendak akan melakukan ibadah tadi.
  • Air yg digunakan adalah air yang bersih & bukan air yg diperoleh dengan cara yg haram,
  • Telah beristinja’ & istijmar lebih dulu (bila sebelumnya mempunyai keharusan buat istinja’ & istijmar dari hadats),
  • Tidak adanya sesuatu hal yang mencegah air sampai ke kulit.

Kami tidak menyebutkan dalil tentang hal di atas lantaran kami menduga hal ini telah ma’ruf dikalangan kaum muslimin.

Hal yang Wajib dalam Berwudhu

Membaca bismillah ketika hendak wudhu, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi was sallam,

« لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ »

“Tidak ada sholat bagi orang yang nir berwudhu, dan tidak terdapat wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala (bismillah) ketika hendak berwudhu”.

Baca juga: Tata Cara Mandi Wajib

Membasuh paras, termasuk pada membasuh wajah merupakan berkumur-kumur, istinsyaq & istintsar. Para ‘ulama mengungkapkan batasan bagian paras yg dibasuh merupakan mulai dari atas ujung dahi (awal loka tumbuhnya rambut) sampai bagian bawah jenggot & batas kiri kanan merupakan indera pendengaran.

Adapun yang dimaksud dengan istinsyaq adalah sebagaimana yg dikatakan Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy rohimahullah, “Memasukkan air ke hidung dengan menghisapnya hingga ke ujungnya, sedangkan istintsar merupakan kebalikannya”.

Dalil tentang hal ini sebagaimana yg firman Allah ‘azza wa jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Hai orang-orang yg beriman, bila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Sebagaimana dalam ilmu ushul fiqh perintah dalam kasus ibadah menaruh konsekwensi wajib . Maka membasuh paras dalam wudhu merupakan wajib . Sedangkan dalil yg memperlihatkan wajibnya berkumur-kumur, istinsyaq & istintsar merupakan ayat di atas yg memerintahkan kita buat membasuh paras, sedangkan ekspresi dan hidung adalah bagian dari wajah. Demikian jua hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ »

“Jika salah seseorang dari kalian hendak berwudhu maka beristinsyaqlah pada hidungnya dengan air kemudian beristintsarlah”.

Dalil spesifik pada masalah kumur-kumur adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ »

“apabila kamu hendak wudhu, maka berkumur-kumurlah”.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahullah mengatakan, “Cara berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar dilakukan bersamaan (satu kali jalan), maka 1/2 air digunakan buat berkumur-kumur & sisanya buat istinsyaq dan istintsar”.

Menyela-nyelai jenggot, dalil mengenai hal ini adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu,

“Merupakan kebiasaan (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallampent. ) jika beliau akan berwudhu, beliau merogoh segenggaman air kemudian beliau basuhkan (ke wajahnyapent) hingga ketenggorokannya kemudian beliau menyela-nyelai jenggotnya”. Kemudian beliau mengungkapkan, “Demikianlah cara berwudhu yang diperintahkan Robbku kepadaku”.

Dan cara menyela-nyelai jenggot merupakan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pada atas yaitu menggunakan menyela-nyelainya bersamaan dengan membasuh paras[25].

Membasuh ke 2 tangan hingga siku, dalilnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“Apabila engkau hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu & tanganmu sampai dengan siku”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Demikian pula hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Kemudian dia membasuh tangannya yang kanan hingga siku sebanyak tiga kali, lalu membasuh tangannya yang kiri hingga siku sebesar tiga kali”.

Menyapu kepala menggunakan air, kedua telinga termasuk dalam bagian kepala. Dalilnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan sapulah kepalamu”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Perintah pada ayat ini menunjukkan hukum menyapu ketua adalah wajib bahkan hal ini dianggap ijma’ oleh An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah[29]. Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Kemudian dia membasuh mengusap ketua menggunakan tangannya,(menggunakan carapent.) menyapunya ke depan dan ke belakang. Beliau memulainya berdasarkan bagian depan kepalanya ditarik ke belakang hingga ke tengkuk lalu mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya”.

Hadits ini menampakan bagaimana cara mengusap kepala yg Allah perintahkan pada surat Al Maidah ayat 6 di atas. Demikian jua hadits ini jua dalil bahwa yang bagian kepala yang dihusap dalam ayat di atas adalah seluruh kepala/rambut[32] & inilah pendapat Al Imam Malik rohimahullah demikian jua hal ini adalah pendapat Al Imam Al Bukhori rohimahullah sebagaimana dalam buku shahihnya. Jadi mengusap kepala bukanlah hanya sebagian (hanya ubun-ubun) sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan dalil bahwa menyapu kedua indera pendengaran termasuk dalam menyapu kepala adalah sabda Nabi ’alaihish sholatu was salam,

“Kedua pendengaran adalah bagian menurut ketua”.

Lalu cara menyapu ke 2 pendengaran adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

“lalu dia menyapu kedua telinga sisi dalamnya dengan 2 telunjuknya & sisi luarnya dengan kedua jempolnya”.[34]

Adapun buat cara mengusap kepala & ke 2 telinga dengan air, buat perempuan sama misalnya buat pria sebagaimana yg dikatakan oleh An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah demikian pula hal ini merupakan pendapat Imam Syafi’i rohimahullah sendiri & dinukil sang Al Bukhori rohimahullah pada kitab shohihnya dari Sa’id bin Musayyib rohimahullah [35].

Membasuh ke 2 kaki hingga mata kaki. Dalil hal ini merupakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“(basuh) kaki-kaki kalian sampai menggunakan ke 2 mata kaki”.

(QS Al Maidah [5] : 6).

Demikian pula hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Kemudian beliau membasuh kedua kakinya sampai 2 mata kaki”.

Membasuh ke 2 mata kaki hukumnya wajib karena Allah sebutkan menggunakan lafadz/bentuk perintah, & hukum asal perintah pada kasus ibadah adalah wajib . Adapun cara membasuhnya adalah sebagaimana yang disabdakan beliau alaihish sholatu was salam,

“apabila beliau shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu, dia menggosok jari-jari ke 2 kakinya menggunakan menggunakan jari kelingkingnya”.

Demikian pula pendapat Al Ghozali rohimahullah, tetapi dia qiyaskan dengan cara istinja’, sebagaimana yg dinukilkan oleh Al ‘Amir Ash Shon’ani rohimahullah.

Sunnah Saat Berwudhu

Bersiwak, hal sebagaimana pada sabda Nabi SAW,

“Seandainya apabila tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap hendak berwudhu”.

Mencuci kedua tangan 3 kali ketika hendak berwudhu, sunnah ini lebih ditekankan saat bangun dari tidur atau dengan kata lain hukumnya wajib . Dalil yang menunjukkan bahwa mencuci tangan ketika hendak berwudhu sunnah adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (waktu beliau sebagai budaknya Utsmanpent.) suatu saat dia memintanya buat membawakan air wudhu (dengan wadahpent.), lalu aku tuangkan air dari wadah tersebut ke ke 2 tangan beliau. Maka dia membasuh tangannya sebanyak tiga kali……kemudian beliau mengungkapkan, “Aku dahulu melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu menggunakan wudhu misalnya yang saya peragakan ini”.

Hal ini ditetapkan menjadi sunnah & bukan harus sebab Utsman rodhiyallahu ‘anhu melakukannya karena melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melakukannya. Semata-mata perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yg dicontoh para teman memperlihatkan hukum anjuran atau sunnah[47]. Kemudian dalil yang menampakan wajibnya mencuci tangan ketika bangun dari tidur merupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Jika keliru seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah ia mencuci tangannya sebelum dia memasukkan tangannya ke air wudhu, karena ia nir tahu pada mana tangannya bermalam”.

Jika terdapat yang bertanya apakah hal ini hanya berlaku pada tidur pada malam hari saja atau umum? Maka jawabannya adalah sebagaimana yg disampaikan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam di atas yaitu seluruh tidur yang mengakibatkan orang tidak tahu pada mana tangannya berada ketika beliau tidur. Dan inilah pendapat yang dipilih sang Al Imam Asy Syafi’i rohimahullah, demikian jua dominan ‘ulama.

Bersungguh-sungguh dalam beristinsyaq & berkumur-kumur waktu nir sedang berpuasa[49]. Dalilnya adalah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

“Bersungguh-sungguhlah pada beristinsyaq kecuali apabila kalian sedang berpuasa”.

Mendahulukan membasuh anggota wudhu yang kanan. Dalilnya merupakan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

“Adalah kebiasaan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam sangat menyukai mendahulukan kanan pada thoharoh (berwudhupent.)”.

Membasuh anggota wudhu sebanyak dua kali atau tiga kali. Dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam membasuh anggota wudhunya dua kali merupakan hadits yg diriwayatkan berdasarkan sahabat Abdullah bin Zaid,

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu (membasuh anggota wudhunya sebanyakpent.) dua kali-2 kali.”

Dalil bahwa dia membasuh anggota wudhu sebesar 3 kali adalah hadits yang diriwayatkan Humroon berdasarkan tentang wudhu Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu ketika melihat cara wudhu Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (waktu dia sebagai budaknya Utsmanpent.) suatu ketika beliau memintanya buat membawakan air wudhu (menggunakan wadahpent.), kemudian saya tuangkan air dari wadah tadi ke tangan dia. Maka ia membasuh tangannya sebanyak tiga kali…lalu dia membasuh wajahnya sebesar 3 kali…

Hal ini sering beliau lakukan dalam anggota wudhu selain pada mengusap kepala, menurut salah satu riwayat hadits Abdullah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu di atas yang juga dalam shohihain,

“Kemudian beliau memasukkan tangannya ke pada wadah air kemudian menyapu kepalanya ke arah depan & belakang sebanyak 1 kali”.

Namun demikian dianjurkan juga menyapu ketua sebesar 3 kali[55], tetapi hal ini dianjurkan menggunakan catatan tidak dilakukan terus menerus dari salah satu riwayat hadits yg diriwayatkan Humroon mengenai cara wudhu Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu waktu dia melihat cara wudhu Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

Beliau (Utsman bin Affan pent.)menyapu kepalanya 3 kali lalu membasuh kakinya tiga kali, lalu beliau menyampaikan, “Aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu seperti ini”.

Tertib, yang dimaksud tertib pada sini adalah membasuh anggota wudhu sesuai tempatnya (urutan yg terdapat pada ayat wudhupent.)[57]. Hal ini kami cantumkan pada sini menjadi sebuah sunnah bukan harus pada wudhu menggunakan alasan hadits Al Miqdam bin Ma’dikarib Al Kindiy rodhiyallahu ‘anhu,

“Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam melakukan wudhu dengan membasuh tangannya tiga kali kemudian berkumur-kumur & istinsyaq 3 kali, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kakinya 3 kali, lalu menyapu kepalanya dan telinga bagian luar maupun pada”.

Berdo’a ketika telah terselesaikan berwudhu. Hal ini menurut sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Tidaklah galat seorang dari kalian berwudhu dan beliau menyempurnakan wudhunya kemudian membaca, “Aku bersaksi bahwa nir terdapat sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, & Nabi Muhammad adalah utusan Allah” melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu nirwana yg jumlahnya delapan, & dia mampu masuk menurut pintu mana saja ia mau”.

Sholat 2 raka’at sehabis wudhu. Hal ini menurut hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

“Barangsiapa berwudhu sebagaimana wudhuku ini, lalu sholat dua raka’at (menggunakan khusyuked.) setelahnya & dia tidak berbicara di antara keduanya[61], maka akan diampuni seluruh dosanya yang sudah kemudian”.

Demikianlah ulasan tentang tata cara wudhu dan doanya yang benar sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW dan semoga bisa menambah wawasan kita.

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.